Jumat, 27 Desember 2013

Sisa-sisa Perasaan

Sembelit ini semakin terasa ketika sore tiba. Rasanya sakit dan memuakkan

Kau tahu kenapa?

Karena setiap sore tiba, bayangan pohon-pohon yang kupandang dari atas jembatan rel kereta itu seolah-olah membentuk siluet tubuh kurus keringmu yang menggelikan.

Aku masih tetap disini.
Di utopia semu yang pernah kita susun berdua.Aku selalu datang setiap sore tiba untuk mengenang betapa aku telah sangat membencimu.

Jika aku mampu, pasti sudah kubunuh dan kucincang tubuhmu. Setelah itu akan kubagikan daging merah segarmu pada anjing-anjing malang di jalanan. Akan kubuat tanda dengan darahmu di tempat-tempat mana saja kita pernah bertemu dan bercinta. Juga tidak lupa, akan kuletakkan jantungmu yang telah kuhiasi dengan bunga krisan cantik di rel kereta tempat kita menghabiskan waktu berdua. Biar dilindas habis.

Kau ingat?
Disini kau akan bercerita panjang lebar tentang bagaimana kau mencintai dan merindukanku, atau apalah itu. Lalu aku akan berpura-pura mendengarkan ocehanmu sambil mengeraskan volume handphone yang sedang melantunkan puisi-puisi Sapardi yang kau suka.


"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"



Kau telah membuatku gila dengan sesuatu yang kau bilang cinta. Aku jadi tidak bisa lagi mendefinisikan perasaanku. Tapi satu hal yang aku yakin tahu.

Aku membencimu. Sungguh.








Kamis, 17 Oktober 2013

Aku yang (Masih) Sulit Menunggu



Anakku (apakah ini terlalu cepat untuk menulis sesuatu untukmu?), di hari yang terik ini (sungguh sangat terik) Ibu ingin mengoceh tentang banyak hal yang mungkin belum kamu tahu. Akhir-akhir ini bumi sudah menjadi terlalu panas, Nak.. Padahal ini bisa jadi merupakan dunia yang kelak akan kau namakan ‘masa lalu’ . Bagaimana jadinya masa depan ketika kau membaca ini? Lebih panaskah? Atau justru manusia semakin pintar dan mulai punya akal untuk memperhatikan tentang keseimbangan ekosistem dan mengesampingkan ketamakan hawa nafsu? Entahlah.. Kau yang akan mengajarkan itu semua kepada Ibu. Hal yang patut disyukuri dari hawa panas ini adalah kau hampir bisa mengeringkan semua hal yang basah. Terutama jemuran. Ya. Ibu tak perlu lagi menunggu lama untuk mengangkat jemuran. Hampir seperti membuat mi instan. Semua menjadi serba cepat. Pagi setelah bangun tidur Ibu menjemur pakaian, dilanjutkan mandi, pergi berbelanja, dan kemudian ketika pulang, voila ! Pakaian pun siap diangkat dan disetrika. Siklus pekerjaan rumah tangga menjadi sangat cepat dan nyaris tanpa henti. Bagaimana tidak? Setelah menyempatkan diri menyetrika, Ibu akan memasak untuk makan siang, kemudian mencuci piring, menyapu lantai, makan, mencuci piring lagi, mencuci pakaian. Tak terasa hari akan beranjak sore dan Ibu harus mulai siap-siap memasak untuk makan malam, mencuci piring, makan, mencuci piring, menyiram tanaman, membereskan rumah sampai tiba malam hari . Ya seperti itu nak setiap harinya. Tanpa henti. Apakah Ibu bosan? Ya. Kadang Ibu mengomel untuk melampiaskan rasa bosan dan lelah, tapi bukan berarti Ibu membenci semua pekerjaan itu. Kuharap kelak kau akan mengerti. 

Nak, seperti ibu-ibu yang lain, Ibu ingin kau menjadi anak yang rajin belajar. Tidak hanya belajar di sekolah. Semua orang bisa belajar di sekolah, berlomba-lomba mendapat nilai A atau mencuri perhatian guru. Tapi belajar bukan hanya di sekolah. Orang-orang pintar yang menjadi penyebab beribu-ribu ikan mati di laut, monyet tidak bisa pulang ke hutan dan membuat banyak orang sedih di bumi yang ibu tinggali ini semuanya belajar di sekolah. Dan Ibu tidak ingin kau menjadi salah satunya. Nenekmu selalu mengatakan ini pada Ibu “ Perhatikanlah sekelilingmu “ dan beliau benar, Nak. Perhatikan sekelilingmu. Sadarilah hal-hal kecil yang tak pernah oranglain sadari. Udara lembab yang menjadi tanda hujan akan datang mungkin? Alis berkerut tanda Ibu akan marah atau suara kendaraan dari jauh yang berarti Ayah akan pulang. Walaupun tentu saja, Ibu ingin kau mendapat nilai A serta perhatian baik dari guru  di sekolah. Bukan agar kau bisa mengalahkan teman-teman sekelasmu, tapi karena kau sadar akan arti tanggung jawab. Suatu saat, cepat atau lambat kau juga harus belajar tentang itu, sayang.

Masih tentang belajar (semoga kau tidak bosan). Selain pada alam dan suasana, kamu bisa belajar dari oranglain juga. Hebat sekali bukan ! Kita bisa belajar dimanapun ! Jujur saja, Ibu tidak terlalu suka belajar di sekolah, menghapalkan hal-hal yang semua orang hapalkan, semua hanya tentang teori yang kemudian dilupakan. Ibu lebih suka belajar dari apa yang bisa dialami, dirasakan dan ditemui, lebih praktis dan mudah diingat. Kau juga akan tahu hal-hal apa yang ingin kau pelajari. Tidak perlu persis sama dengan Ibu. Kau akan punya cara sendiri untuk belajar. Kamu bisa belajar dari Ibu, Nenek, Kakek, Paman, orang yang kamu lihat dan temui di jalan menuju sekolah, dan tentu saja dari Ayah. Ayahmu. Kau harus bisa belajar  banyak dari beliau. Oleh karena itu, Ibu berjanji akan berjuang bertemu dengan seseorang yang dengan bangga bisa kau panggil ‘ayah’. Tidak hanya kau, ‘ayahmu’  ini juga harus bisa menjadi guru dan pemimpin bagi Ibu. Kita akan menemukan ‘ayah’ bukan? Tentu saja. Tentu saja, sayang. Jangan khawatir. Ayah dan Ibu akan menjaga dan menyayangimu dengan baik.
  
Kelak Ibu berharap kau bersedia mempercayakan segala cerita tentang hari-harimu kepada Ibu. Mulai dari hari pertama sekolah hingga kau merasakan yang namanya jatuh cinta. Asal kau tahu, Ibu senang sekali bercerita dan mendengar cerita (semoga ini tidak mengganggumu). Selain itu Ibu pintar sekali menebak dan mencari tahu, jadi jangan mencoba untuk berbohong pada Ibu, karena Ibu akan tahu dan semua justru akan menjadi lebih rumit dari yang ingin kau sembunyikan. Jadi jangan takut untuk berkata jujur, lebih takutlah berbohong. 

Jika kau beranjak dewasa dan mulai berbuat nakal, Ayah akan tahu. Ayahmu yang akan mengajarkan lebih banyak hal ketika kau mulai bosan dengan perhatian Ibu. Akan kupastikan kau senang mengobrol dengan Ayahmu sehingga kau tidak akan melewatkan sehari tanpa bercengkrama dengannya. Tentu saja tentang hal-hal yang ada hubungannya dengan laki-laki.

Sejujurnya Nak, Ibu ingin Ayahmu ini tidak bekerja di kantor. Sehingga kita punya waktu untuk jalan-jalan dan piknik ke tempat-tempat baru. Untuk apalagi kalau bukan bersenang-senang dan tentu saja belajar? Jika ingin tahu caranya bersenang-senang dan menikmati hidup, tanyakan pada Ibu, kau akan punya banyak catatan tentang itu. Sedangkan Ayah akan tahu bagaimana caranya menjadi bijaksana, tegas, sabar, dan juga lucu ! Ayah pastilah orang yang lucu ! Ibu yakin. Lalu jangan khawatir, Ibu ini cukup romantis. Ibu tidak malu menyanyi untuk menghiburmu yang sedang sedih atau tidak bisa tidur. Ibu akan tahu kapan waktu yang tepat untuk mendekatimu. 

Anakku sayang, jangan bersedih
esok 'kan ada hari yang lain
Bunga kan mekar kumbang berdatangan, sayang.. bagaimana...?

Sinilah sini duduk dekatku baring di atas pangkuan ibu
Ayah ‘kan datang membawa lukisan
pemandangan alam kota yang tak pernah
engkau lihat sebelumnya, sayang...
kita kan bersama s'lamanya”

(Senja-White Shoes and The Couples Company)

Ngomong-ngomong bagaimana kalau kita istirahat dulu? Sudah mulai tengah hari dan Ibu kedatangan teman dari tempat yang sangat jauh. Kelak kau akan Ibu ajak berkenalan dengannya. Teman Ibu yang satu ini pun sangat lucu!  Sampai jumpa sayang...



Kamis, 15 Agustus 2013

.................................... . . .



Halo. Tomi? Kamu disana?

Hebat ! Kau tampak sama seperti dulu!! Apa kabarmu?

Bagaimana menurutmu aku sekarang? Lebih baik? Lebih tinggi? Lebih kurus? Atau mungkin.. lebih cantik? Kau menyukainya? Hihihihihih.

Tomi, sudah lama kau tak bicara padaku sepatah katapun. Aku yang selalu saja cerewet menceritakan banyak hal padamu dan selalu berakhir dengan pertanyaan “Apakabar dia sekarang?” . Semoga kamu tidak bosan. 

Tomi, lupakah dia padamu? Lupakah dia padaku juga? Kita ini hanyalah masalalu baginya. Dan bagiku kau juga hanyalah sepenggal masalalu (yang paling sering kutengok dan kuajak bercerita tentu saja).  Lelahkah kamu disini Tomi? Sebenarnya siapa yang kau tunggu? Aku? Dia? Hanya aku yang sesekali menengokmu disini, bukankah dia sama sekali tidak pernah datang? Apakah dia merasa lebih baik sekarang? Melupakanmu? Melupakan kita? Bicara padaku Tomi. Bicaralah padaku sekali lagi.. tolong....

Oke baiklah. Hari ini aku membaca lagi surat-surat yang kalian tulis untukku. Dalam beberapa surat kamu muncul sebagai penengah. Tapi di satu surat yang tidak ada tanggalnya kamu marah dan memaki-makinya dengan kejam. Hahahahha. Tidakkah kau katakan padanya untuk memperhatikan betapa pentingnya sebuah tanggal penulisan dalam sebuah surat? Sudahlah lupakan. 

Tomi, apakah aku boleh menikah? Apa tidak apa-apa bila aku meninggalkanmu disini sendirian? Sejujurnya kadang-kadang aku merasa sangat merindukannya, tapi mungkin dia tidak pernah merindukanku. Dia sudah baik-baik saja sekarang, dia tidak perlu menengok masa lalu lagi untuk melangkah. Aku takjub menyadari kenyataan bahwa hanya akulah yang selalu berada disini menemanimu, menghidupi khayalanku sendiri, tidak rela melepasmu pergi dan bertingkah seperti orang gila. Kemudian aku sadar juga bahwa akulah yang selalu menunggu seseorang untuk datang. Bukan kau. Lalu siapa sebenarnya yang kutunggu Tomi? Katakan padaku brengsek !!!!! Jangan diam saja Tomi... kumohon.....

Kumohon Tomi....

Tomi..... kamu satu-satunya yang kuijinkan berada disini.. jangan pula kau mencoba untuk memusuhiku. Ijinkan aku tinggal disini lebih lama bersamamu. Aku berjanji akan jadi anak baik, aku tidak akan nakal dan mencoba mengecewakan semua orang lagi. Aku janji. Bisakah kita baik-baik saja disini? Membunuh waktu bersama? Melihat kilasan-kilasan lucu tentang orang-orang yang berjuang mati-matian tentang sesuatu yang tidak pernah terjadi yaitu masa depan. Masa depan?

BRENGSEK !!!!!!!!! Kau mengkhianatiku Tomi !!!!!!! Jangan sekali-kali kau coba membuatku berpikir tentang itu lagi !! 

Astagah ! Maafkan aku Tomi... aku kerap kali kasar padamu... Ssssshhh... duduk diamlah disini bersamaku, jangan membantah, dan jangan bertanya ‘kenapa’.

Jangan memandangku seperti itu ! Dengan kamu berada disini saja aku masih merasa kesepian. Apalagi ditambah dengan tatapan menghakimi itu, aku tidak tahan.. Ya mau bagaimana lagi, kamu ngambek selama bertahun-tahun dan tak mau bicara padaku. Lagipula aku harus bicara pada siapa? Dia si Ksatria Tidur sudah bangun dari tidur panjangnya. Hanya dia lah yang mampu membuatmu bicara. Kenyataannya memang dia tidak lagi berada disini, tidak mau repot-repot tidur menemuiku setelah susah payah bangun. Ya, tentu saja. Hahahaha. Apa pula yang aku pikirkan ini. Bodoh. Bukan begitu Tomi? (Setelah bertahun-tahun ternyata aku tidak tambah pintar)

Tomi, aku mengantuk.... boleh aku tidur sebentar. Jangan kemana-mana... aku akan bangun sebentar lagi. Ya. Mungkin sebentar lagi....

Rabu, 15 Mei 2013

Aku yang Memang Masih Belum Oke, tetapi Alloh Sudah Pasti Maha Oke


Selamat malam penghuni kotak mimpi segitigaku. Gadis yang menulis ini kini telah berusia 23 tahun sejak sebulan yang lalu. Malam ini tepatnya tanggal 15 Mei 2013 kuputuskan untuk membagi seluruh perasaan di ruangan pribadiku ini. Kuharap bisa memberikan inspirasi atau mungkin hiburan bagi para pendatang yang dengan sengaja atau tidak sengaja membaca tulisan ini. Untuk diketahui tulisan ini sepenuhnya jujur dari diriku. Tiada maksud menyakiti siapapun, aku hanya ingin berdamai dengan keadaan dengan caraku; dimana salah satunya adalah dengan menulis. Mari kita mulai.

Adalah seorang pemuda kurus tidak begitu tinggi, berhidung mancung, berkulit hitam manis, bermata besar, dan bila tersenyum muncul kerut kerut di sekitar matanya. Pemuda itu sangat kukagumi semangat dan selera humornya. Terkadang aku sengaja melucu hanya demi bisa melihat kerut-kerut di sekitar matanya yang unik itu. Dia adalah seorang pemimpi besar. Dia ingin sukses dan (mungkin) memperoleh banyak uang dari bidang yang sangat dia cintai, yaitu advertising (sampai kini bila melihat kata itu masih bergetar rasanya, hihihihi). Terakhir kali kutemani dia bermimpi, dia berkata padaku bahwa dia ingin menjadi seorang Strategic Planner (yang waktu itu aku bingung sebenarnya itu profesi apa. tapi lambat laun akhirnya aku tahu!). Kini, kudengar bahwa dia ingin memiliki usaha sendiri (sepertinya sebuah agency periklanan juga) yang mana itu adalah bagus karena akhirnya dia kini bisa menjadi bos. Hehe. 

Pemuda itu pernah saling menemani bersamaku selama kurang lebih dua tahun. Aku sering menangis dibuatnya, tapi sering tertawa juga. Masih teringat di benakku ketika dia memboncengku dengan sepedanya menuju pantai. Ah pantai, tadinya aku adalah orang yang tidak terlalu suka pantai karena bagiku pantai itu panas dan kotor. Aku juga takut pada laut dan ikan. Namun dengannya, perlahan-lahan aku mulai menyukainya. Dulu sering kami ke pantai untuk melepas penat dan kesal, sekedar berteriak atau naik kuda !! Naik kuda !! Hahahahaha. Aku juga masih ingat di hari kami naik kuda di pantai, pemuda itu dan aku sama-sama mengenakan kaus berwarna putih dan dia terlihat sangat tampan di hari itu (aku punya video dan fotonya, makanya aku ingat). Pantai selalu mengingatkanku akan pemuda itu dan semangatnya yang masih mengalir di ingatanku. Terkadang terbersit di pikiranku “Kapan lagi ya aku bisa melihat kerut-kerut di sekitar matanya lagi?”

Aku sangat menyayangi pemuda itu. Aku hampir selalu bisa membaca pikirannya, jadi prosentase keberhasilan dia memberi surprise padaku bisa jadi sangat kecil. Hahahaha. Tapi aku selalu mengagumi usahanya yang polos, manja, dan lucu itu. Dia bilang dia tidak pernah bersikap begitu bila di hadapan oranglain. Katanya waktu itu, dia bersikap begitu hanya padaku. Hehehe. Lucu dan bikin gemes sebenarnya pemuda itu. Tapi jika sedang bersuasana hati buruk, marah, ingin menang sendiri, dia sungguh sungguh menjengkelkan ! Hahahaha. Kangen juga ternyata aku padanya. Ingin rasanya aku meminta maaf pada pemuda itu karena aku lebih sering marah ketika menanggapi marahnya. Aku kini sadar bahwa aku harus belajar bersabar dan percaya bahwa Tuhan benar-benar telah menetapkan sebuah rencana bahkan sebelum aku dan pemuda itu dilahirkan. Terkadang aku sering memaksakan takdir, merasa aku lebih lihai dan pandai daripada Tuhan, sehingga aku menentang-Nya dengan cara-caraku sendiri yang malah akhirnya menyakiti pemuda yang paling aku sayangi itu. Apa kamu terluka cukup dalam wahai pemuda? 

Kini (ah, aku harus membahas ini juga ya?) Kini pemuda itu masih tetap ada di dalam hati dan pikiranku, namanya mengalun ketika aku curhat; entah kepada Tuhan atau kepada teman. Ya, aku yakin pemuda itu masih ada di dalam diriku, hanya saja aku kini tak bisa menyentuh dan melihat kerut-kerut wajahnya ketika dia tertawa. Bahkan aku kini tak tahu kapan dia tertawa. Biar Tuhan yang menyampaikan salamku padanya, menyampaikan betapa aku merindukan kerut-kerut di wajahnya itu. Ya Alloh, tertuliskah namanya di sisi namaku di dalam Lauh Mahfudz mu? Jika memang iya, jaga hatiku dan hatinya sampai akhirnya Kau ijinkan kami bertemu lagi dengan keadaan yang paling Engkau ridloi. Namun jika bukan, tidak apa-apa Ya Alloh.. tetap jaga hatiku dan hatinya agar kami berhak mendapatkan pasangan-pasangan yang juga terjaga hatinya karena-Mu. Karena aku sangat menghargai kehadirannya di hari-hariku. 

Terimakasih Ya Alloh.... Kau ajarkan aku sabar dengan cara yang paling indah dan paling mudah. Kau ajarkan aku menyayangi dengan cara yang lebih Engkau sukai. Kau anugerahkan rasa cinta yang besar padaku sehingga kini aku punya waktu dan mulai belajar berfikir tentang oranglain. Kau ijinkan aku untuk mendekat pada-Mu sekali lagi. Ya Alloh, sungguh tak pernah Kau mengambil sesuatu dari hamba-Mu tanpa adanya kebaikan didalamnya. Aku yang masih buta dan tuli ini masih sulit untuk melihat dan mendengar tanda-tanda kasih-Mu. Kenangan-kenanganku dengannya serasa membakar kepala dan perasaanku sehingga bulir-bulir air mata itu mengalir dan sering aku tak sanggup menahannya. Ya Alloh, sungguh perasaan senang dan sedihku ini hanya milik-Mu. Engkau kuasa mengambil suatu perasaan lalu menggantinya dengan rasa yang lain. Aku tidak akan meminta Engkau untuk menghapus kenangan-kenangan itu dari pikiranku, hanya saja ijinkan aku merasa ikhlas dan bahagia setiap kali aku mengingatnya. Ijinkan pemuda itu meninggalkan jejak indah di dalam hidupku. Ijinkan aku menguasai apa yang disebut ‘ikhlas’ itu. Lalu, jika masih boleh nawar sedikit, semoga suatu saat ketika aku sudah oke, aku bisa melihat kerut-kerut di wajah tawa pemuda itu lagi. Aamiin.   

Selasa, 22 Januari 2013

Surat Beramplop Coklat Bergambar Jam dan Kalender #1


Aku tidak menyangka akhirnya akan menuliskan surat juga kepadamu. Aku tahu kau menganggap ini bodoh. Aku juga tahu kau tahu bahwa aku memang kerap kali bertingkah bodoh. Jadi bacalah saja.

Hari ini tanggal 22 Januari 2013. Hari dimana kamu berangkat. Ini masih pagi sekitar pukul 8.18 aku dikamarku manuliskan ini untukmu sambil makan nasi goreng. Jujur saja, aku berharap kau datang menemuiku hari ini , yah sekedar untuk mengucapkan selamat tinggal, berbagi kenangan, saling meminta maaf, atau jika boleh meminta lebih lagi, kita mungkin bisa memasak bersama. Aku tahu kau tidak pergi untuk selamanya. Aku masih bersyukur kita berada di zona waktu yang sama, tidak terlalu jauh. Berjanjilah kau akan baik-baik saja disana. Berjanjilah kau akan menjaga diri dan hatimu dengan baik, yaitu selalu ingat akan Alloh dan sebagai bonus juga selalu ingat kepadaku. Dewasalah, belajarlah yang baik.. Jangan sakit. Aduh bahkan dalam tulisan pun aku cerewet. Aku minta maaf.. hiks hiks. Baru saja aku mendapat pesan darimu dan aku hampir menangis dalam konotasi yang baik dan bukan karena kau menyakitiku.  

Aku sadar hubungan kita tidak sempurna dan tidak bisa dikatakan mulus juga. Tapi aku bersyukur aku digariskan mengalami kesadaran maupun ketidaksadaran bersamamu, bukan dengan oranglain. Aku juga bersyukur diberi kesempatan untuk melihatmu ketika kuat maupun saat terlemahmu. Aku bersyukur juga telah melihatmu ketika kau keras kepala maupun ketika sedih atau manja. Aku sering marah dan sebal padamu dan aku yakin begitu pula kau. Seolah-olah kita saling berusaha untuk saling menarik bagian dari diri kita. Bukannya melar, tapi kita lebih sering robek. Haaah,, kalau mengingat hari itu rasanya seperti lelah sekali. Kadang aku pengin kembali ketika sekolah dasar dulu, ketika cinta begitu sederhana dan menerima. Ketika kita sudah besar kita tidak lebih dewasa tapi justru lebih egois dalam hal yang satu ini. Meskipun begitu, aku belajar banyak darimu. Entah apa jadinya aku kalau tidak pernah bertemu kamu.

Waktu berjalan begitu lambat dan menyebalkan, sekarang baru pukul 12.26 dan seakan-akan telah menunggu selama setahun aku yang lagi-lagi tidak sabar akhirnya menelponmu. Mendengar suaramu yang dalam dan tenang itu membuatku nyaman. Rasanya kau pasti tahu juga apa yang akan kutanyakan padamu karena kamu dua kali bicara dengan penuh penekanan “ Nanti aku ke rumahmu sayang “ . Mendengarnya saja sudah merasa lebih baik meskipun masih ada beberapa spekulasi sialan yang berkembang di kepalaku. Bagaimana nanti kalau hujan? Bagaimana kalau kau lupa waktu? Bagaimana kalau nanti kita hanya bisa bertemu sebentar? Dan ‘bagaimana’ ‘bagaimana’ yang lain. Jadi kuputuskan daripada aku berpikir ngawur lebih baik aku membunuh waktu dengan menulis ini. Sebenarnya aku tak yakin kamu akan benar-benar punya waktu untuk membacanya nanti, tapi aku tak tahu harus melakukan apa yang bisa lebih baik dari ini.

Lagi-lagi kuputar lagu yang sama Christina Perri-Thousand Years mengingatkanku tentang film vampir modern itu dan tentu saja tentang kamu. Mengingat lagi mungkin sekitar sebulan lalu di rumah sakit di jam yang sama kau sedang membujukku untuk makan siang agar aku bisa minum obat, dan seperti distel otomatis aku biasanya berkata “nanti aja”. Bukannya mengingkari nikmat-Nya, rasanya aku pengin kembali ke tanggal itu, bukan untuk mengulang sakitnya, tapi kebersamaannya saja. Oh tidak, akhirnya aku menangis juga. Aku harus segera menutup pintu kamarku agar tidak ada yang melihat. Bukan karena aku malu, tapi aku takut Bapak akan panik melihatku menangis, disangkanya aku sakit atau apa.

Jika kau begitu berani, ajari aku bagaimana caranya menjadi berani.
Jika kau begitu kuat, ajari aku bagaimana caranya menjadi kuat.

Perasaan melankolis yang melekat di diriku ini mungkin yang seharusnya patut disalahkan. Aku minta maaf, aku ingin mengantarmu pergi dengan ceria tapi toh aku akhirnya menangis juga. Lagipula perasaan melankolis macam apa yang membuatku bisa menuliskan dua halaman ocehan tidak jelas hanya karena kau akan pergi sebentar saja. Sepertinya aku harus bersyukur aku tidak dilahirkan ketika perang. Bagaimana jadinya kalau aku dilahirkan sebagai seorang ibu-ibu penduduk pribumi yang harus melepas suaminya pergi berperang dengan menggunakan bambu runcing atau mungkin yang sedikit lebih modern adalah menjadi ibu-ibu rumah tangga tahun 60 an yang harus menerima kenyataan bahwa suaminya diculik PKI. Ya Alloh... syukurlah kau tidak akan pergi untuk menarik pelatuk atau mengibas-ibaskan bambu runcing. Jangan marah padaku ya karena aku mengoceh disini.

Kadang-kadang aku juga berfikir pekerjaan apa ya yang bisa aku lakukan dengan sebuah anugerah berupa perasaan melankolis yang kata orang-orang ‘lebay’ ini? Menjual cerita? Aku tidak cukup percaya diri melakukannya, meskipun aku cukup senang menghayal tapi aku tidak lancar mengarang. Menjual lagu? Aku tidak pandai memainkan alat musik. Jujur saja, aku tidak ingin berakhir menjadi ibu-ibu melankolis yang selalu cerewet bercerita tentang anak dan suaminya suatu saat nanti. Membayangkannya saja sudah cukup mengerikan.

Rasanya ingin cepat-cepat melesat ke bulan Maret atau April. Jujur saja aku cukup sedih karena kau memutuskan untuk berangkat hari ini, ini kan masih tanggal 22 Januari, ya ampun !! Rasanya ingin sekali aku meneriakkan kalimat itu, tapi di sisi lain aku senang kau segera berangkat karena aku akan segera mengakhiri perasaan menyiksa untuk melepasmu pergi ini. Setelah kau berangkat yang bisa kulakukan adalah menunggumu pulang. “Pulang” tiba-tiba kata-kata itu menjadi sangat ajaib bagiku. “Minggu depan aku pulang sayang” waaaawwww.... seperti apa rasanya ketika aku mendapat kata-kata itu darimu nanti yaa??   Bagai anak kecil kegirangan aku pasti akan mulai berdiri di depan kaca dan sok-sok an membetulkan rambut atau bajuku, padahal kan kau masih akan pulang seminggu lagi. Bodoh. Gadis bodoh ini kapan akan menjadi pintar? Ngomong-ngomong kau suka yang mana? Bodoh atau pintar?

Jika kau begitu pintar, ajari aku bagaimana caranya menjadi pintar

Aku jadi teringat adegan film vampir modern itu dimana si tokoh utama wanita menunggu selama hampir setahun ketika ditinggal si tokoh utama pria ke luar negri. Digambarkan disana dia duduk dikursinya dan pemandangan di jendela kamarnya berubah dari musim panas, musim gugur, lalu musim dingin. Ketika melihat adegan itu aku berpikir bahwa adegan itu bodoh sekali. Apa-apaan yang dilakukannya? Dia bahkan tidak melakukan apapun dan cuma duduk di kursinya. Dramatis. Super. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan seperti itu. Aku mungkin bodoh dalam hal ini, tapi setidaknya aku akan pergi mandi, nonton tivi, atau makan daripada duduk melamun di kursi.

Apa kau akan kangen padaku? Pertanyaan yang meskipun telah kau jawab tapi rasanya ingin menanyakannya terus dan terus. Ah ! Apasih yang kamu lakukan diluar sana? Cepatlah datang kemari... aku sudah hampir menuju halaman ke tiga nih ! Ah sudahlah.. apa-apaan juga yang aku lakukan? Baiklah, lebih baik aku memasak saja..

Pukul 16.15 setelah kira-kira 1 jam kamu di rumah dan menghabiskan dua piring masakanku akhirnya kamu pamit untuk pergi. “Aku berangkat ya” masih terngiang-ngiang ekspresi dan nada suaramu ketika mengatakan itu. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Di satu jam yang menyiksa itu seolah olah kita berada di hampa udara, kita sama-sama tidak banyak bicara. Hanya menghela napas dan sesekali tertawa. Barangkali kitapun tidak tahu untuk apa kita tertawa seakan-akan hanya untuk menertawakan diri betapa konyol dan sentimentilnya kita. Sambil memelukku kamu berkata “Nanti kalau aku pulang aku jadi pintar. Kan cuma sebentar, dua kali kamu datang bulan. Bayangin kalo aku pergi ke Jerman. Ya?” bagai anak kecil aku menangis sambil mengangguk. Ya Alloh.. kami berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih.. meskipun kamu baru akan meninggalkan Jogja pukul 19.30 nanti, tapi ini kesempatan terakhirku melihatmu di bulan ini gara-gara kondisiku yang belum bisa pergi kemana-mana sendirian. InsyaAlloh ketika kamu pulang nanti aku adalah orang yang akan menjemputmu. Bersemangatlah !

Jumat, 12 Oktober 2012

Ijinkan Aku Tumbuh Bersamamu

kamu yang tak kutahu sedang apa dan dimana..

bagaimana aku bisa mendeteksi keberadaanmu?
kau diam tak bergerak, tak bersuara, dan sepertinya kau juga tidak pernah bisa mendengarku seolah-oleh frekuensi kita berbeda...

kau bagai kelelawar.. dengan pendengaran supersonikmu mencari arah dengan mengandalkan suara yang kau pantulkan dengan frekuensi sangat tinggi. tapi, aku tidak bisa mendengarmu !!! aku tidak bisa mendengarmu !! aku tidak mendengar apapun !!!!

kau terbang berkelebat sebentar di belakangku, aku melihatmu, kau mungkin juga merasakan kehadiranku,
tapi sekali lagi kutegaskan,
aku tak mampu mendengarmu....

cintakah kau padaku?
rindukah kau padaku?

tahukah kau bahwa aku menantimu setiap senja?
berusaha memilah diantara ribuan kelelawar dan burung walet yang terbang.. dimana kau? yang mana kau??
terbang dimana??

tak peduli bagaimana kerasnya aku berteriak memanggilmu,
tak peduli bagaimana dalamnya aku menginginkanmu,
aku tidak mampu menemukanmu.

beri aku isyarat

jika kau cinta padaku,biarkan aku mengerti..
jika kau rindu padaku, biarkan aku mengerti..

paling tidak, biarkan aku mendengarmu...
mendengar ketukanmu, menyesuaikan dengan ritmemu, meniti nada bersama, bersenandung berdua, lalu setelah itu ijinkan aku berjanji untuk bernyanyi untukmu selamanya... melukismu setiap pagi, menghangatkanmu setiap malam, ijinkan aku melakukannya...

ijinkan aku mencintaimu
ijinkan aku merinduimu

ijinkan aku tumbuh bersamamu... ya?




Jumat, 07 September 2012

I'm a Time Traveler


Pernah gak sih kamu berpikir melintasi waktu? Bukan ke masa depan, tapi ke masa lalu.. masa lalu yang jauh sekali, tempat dimana kamu tidak akan pernah kembali.

Pertama-tama secara tidak sengaja aku melihat kiriman pesan dari seorang teman di salah satu akun jejaring sosialku. Aku lihat penanda waktunya, katanya “one week ago” dalam hati aku membatin “ ya ampun, dia kirim ini baru seminggu yang lalu ternyata, serasa udah berbulan-bulan yg lalu deh kiriman pesan ini” Nah itu dia. Entah kenapa aku seperti punya masalah dengan jarak waktu masa lalu. Misalnya ketika aku cerita sesuatu pada temanku dan dia bertanya “kejadian itu kapan?” aku akan dengan entengnya menjawab “beberapa bulan yg lalu” . Padahal bisa jadi kejadian yg aku ceritakan itu hanya beberapa hari atau beberapa minggu yang lalu.

Yang kedua, ketika dimasa sekarang kamu mendengarkan kembali lagu yang dengan rutin kamu dengarkan di jaman dulu, berani taruhan, pikiranmu pasti melayang ke masa lalu.. entah ketika kamu SMA, SMP, atau bahkan SD. Hal ini juga terjadi padaku malam ini. Secara sengaja malam ini aku menyusun playlist dengan lagu-lagu yang rutin kudengarkan dimasa lalu. Gak ada alasan khusus sih, cuma ingin nostalgia aja. Lagu-lagu itu adalah lagu soundtrack anime terkenal macam Naruto dan Gundam SEED. Langsung saja pikiranku melayang ke masa SMP dan SMA. Lucu banget ! Aku ingat dulu aku sempat mati-matian berusaha menghapal lirik salah satu soundtrack anime Naruto. Bagiku waktu itu adalah sebuah tantangan karena di lagu itu ada bagian nge-rap nya. Bayangin kamu harus menghapal lirik nge-rap dengan bahasa jepang! Fiuh ! Aku hampir setiap sore duduk manis di depan komputer dan muter lagu Alive keras-keras. Pokoknya sampek hapal ! Hahaha. Aku juga ingat, saking terobsesinya aku dengan hal berbau jepang-jepangan, aku belajar menulis huruf hiragana dan katakana (yah, kebetulan waktu itu diajarkan di sekolah juga sih). Dalam hati aku bertekad, “pokoknya gak ada yg boleh lebih jago dari aku dalam urusan tulis menulis huruf ini di kelas!” wahahaha. Aku mulai ngeprint lirik-lirik lagu sountrack anime favoritku, terus aku tulis ulang pakai huruf hiragana, lalu aku nyanyikan. Ya ampun.. dulu aku selo banget ya.. Selo dan kepinginannya sederhana banget. Ehh.. aku ralat deh.. kepinginanku nggak sederhana.. semasa SMP aku masih ingat pernah berdoa di setiap sholat, aku bilang “ Ya Allah, semoga aku bisa jadi komikus terkenal yang karyanya disukai pembaca di Jepang.. yaa.. paling nggak seperti Watase Yuu, Ya Allah.. aamiin” . Dulu kupikir Watase Yuu ini adalah komikus kacangan yg baru debut (karena di Indonesia baru ada beberapa judul komiknya yang aku baca. Yang populer banget dulu itu adalah Imadoki) eeh.. ternyata aku salah.. yah, mana ada manga-ka (komikus jepang) yang nggak terkenal, yang nggak hebat, yang nggak pintar. Waaa.. mimpikuuuu.... kamu terkubur dimana sekaraaaangg???

Ngomong-ngomong soal melintas ke masa lalu, playlist ku berhenti di lagu Nami Tamaki. Reason judul lagunya. Bagiku soundtrack Gundam SEED ini lumayan spesial karena aku masih ingat benar, pagi hari tanggal 27 Mei 2006 aku mendengarkan lagu ini di walkman ku sambil aku siap-siap berangkat sekolah. Sebelum lagu ini berakhir, tiba-tiba terjadi gempa yang gede banget di Jogja. Gempa terbesar yang pernah aku rasakan seumur hidup.Na’udzubillahimindzalik. Kini, aku duduk di atas kasur yang sama dengan yg aku duduki pagi itu, kasur dengan sprei merah-biru bergambar tokoh kartun tweety , sprei yang dijahit sendiri oleh Ibu dengan mesin jahit Singer nya. Posisi kasur dan kamarnya memang sudah pindah, tapi kasurnya masih sama. Tiba-tiba aku kepikiran “berapa kali ya dalam hidupku ini aku duduk di ujung kasur seperti ini?” lalu “berapa kali ya kalau dihitung sprei ini diganti dari pertama kali dipasang di kasur sampai saat ini?” Huuuft.. aku nyaris mencium bau kamarku yang dulu, mencium bau kanak-kanakku, lalu melesat terus jauuuhh ke gendongan Mbak Nah; pengasuhku selama 20 tahun . Di gendongannya aku setiap siang menjelang sore menangis mencari Ibu yang belum pulang kantor.. ya ampun, aku mulai mencium bau jarik ungu yang selalu dia pakai untuk menggendongku dahulu. Dia akan menggendongku sampai ujung gang, menanti Ibu pulang sambil berusaha mendiamkan aku. Aku terus menangis sambil berharap Ibu akan menepati janjinya membelikanku coklat payung kesukaanku. Oh, Ibu jarang menepati janjinya. Sering ia pulang tanpa membawa coklat itu.

Pernah nggak sih kamu berpikir jauh ke belakang seperti itu?

Jauh ke rahim Ibu?

Aku bisa membayangkan bagaimana suasana di rahim dahulu (entah sepertinya ini sedikit teracuni oleh video-video Harun Yahya yang kutonton jaman SMP dulu) suasana disana damai, suara-suara terdengar lambat dan lamat-lamat, kamu akan agak sulit mendengar sesuatu dari dalam sana. Tapi kamu selalu bisa menegok ke atas, disanalah perut Ibu. Disana tidak gelap, dari perut Ibu itu ada sinar terang yang memberimu cahaya sehingga km bisa melihat tanganmu dan kaki serta tali pusarmu, dan tentu saja, semuanya merah di dalam sana.

Ah, Ya Allah... Malam takbiran ke berapakah ini dalam hidupku? 22 kali? Aku mendengar manusia-manusia ciptaanmu menyeru nama-Mu semalam suntuk “Allohukbar Allohukbar Laaillaahaillallaahu Allohuakbar Alohuakbar Walillaahilham” selama 22 kali?? Lalu spreiku diganti berapa kali selama ini? Posisi kasurku telah berpindah berapa kali? Kordenku sudah kucuci berapa kali? Akankah pertanyaan-pertanyaan remeh temehku ini terjawab suatu saat nanti Ya Allah? Mungkin.... ketika tiba saatnya malaikat-Mu menjemputku, aku tidak akan penasaran lagi. Kau akan menjawab semuanya..

 Kapan? Dimana? Siapa? Mengapa????

#np Reason-Nami Tamaki

Wallahu’alam bishawab.


ditulis dengan sabar pada tanggal 19 Agustus 2012 pukul 01:20 AM