Kamis, 17 Oktober 2013

Aku yang (Masih) Sulit Menunggu



Anakku (apakah ini terlalu cepat untuk menulis sesuatu untukmu?), di hari yang terik ini (sungguh sangat terik) Ibu ingin mengoceh tentang banyak hal yang mungkin belum kamu tahu. Akhir-akhir ini bumi sudah menjadi terlalu panas, Nak.. Padahal ini bisa jadi merupakan dunia yang kelak akan kau namakan ‘masa lalu’ . Bagaimana jadinya masa depan ketika kau membaca ini? Lebih panaskah? Atau justru manusia semakin pintar dan mulai punya akal untuk memperhatikan tentang keseimbangan ekosistem dan mengesampingkan ketamakan hawa nafsu? Entahlah.. Kau yang akan mengajarkan itu semua kepada Ibu. Hal yang patut disyukuri dari hawa panas ini adalah kau hampir bisa mengeringkan semua hal yang basah. Terutama jemuran. Ya. Ibu tak perlu lagi menunggu lama untuk mengangkat jemuran. Hampir seperti membuat mi instan. Semua menjadi serba cepat. Pagi setelah bangun tidur Ibu menjemur pakaian, dilanjutkan mandi, pergi berbelanja, dan kemudian ketika pulang, voila ! Pakaian pun siap diangkat dan disetrika. Siklus pekerjaan rumah tangga menjadi sangat cepat dan nyaris tanpa henti. Bagaimana tidak? Setelah menyempatkan diri menyetrika, Ibu akan memasak untuk makan siang, kemudian mencuci piring, menyapu lantai, makan, mencuci piring lagi, mencuci pakaian. Tak terasa hari akan beranjak sore dan Ibu harus mulai siap-siap memasak untuk makan malam, mencuci piring, makan, mencuci piring, menyiram tanaman, membereskan rumah sampai tiba malam hari . Ya seperti itu nak setiap harinya. Tanpa henti. Apakah Ibu bosan? Ya. Kadang Ibu mengomel untuk melampiaskan rasa bosan dan lelah, tapi bukan berarti Ibu membenci semua pekerjaan itu. Kuharap kelak kau akan mengerti. 

Nak, seperti ibu-ibu yang lain, Ibu ingin kau menjadi anak yang rajin belajar. Tidak hanya belajar di sekolah. Semua orang bisa belajar di sekolah, berlomba-lomba mendapat nilai A atau mencuri perhatian guru. Tapi belajar bukan hanya di sekolah. Orang-orang pintar yang menjadi penyebab beribu-ribu ikan mati di laut, monyet tidak bisa pulang ke hutan dan membuat banyak orang sedih di bumi yang ibu tinggali ini semuanya belajar di sekolah. Dan Ibu tidak ingin kau menjadi salah satunya. Nenekmu selalu mengatakan ini pada Ibu “ Perhatikanlah sekelilingmu “ dan beliau benar, Nak. Perhatikan sekelilingmu. Sadarilah hal-hal kecil yang tak pernah oranglain sadari. Udara lembab yang menjadi tanda hujan akan datang mungkin? Alis berkerut tanda Ibu akan marah atau suara kendaraan dari jauh yang berarti Ayah akan pulang. Walaupun tentu saja, Ibu ingin kau mendapat nilai A serta perhatian baik dari guru  di sekolah. Bukan agar kau bisa mengalahkan teman-teman sekelasmu, tapi karena kau sadar akan arti tanggung jawab. Suatu saat, cepat atau lambat kau juga harus belajar tentang itu, sayang.

Masih tentang belajar (semoga kau tidak bosan). Selain pada alam dan suasana, kamu bisa belajar dari oranglain juga. Hebat sekali bukan ! Kita bisa belajar dimanapun ! Jujur saja, Ibu tidak terlalu suka belajar di sekolah, menghapalkan hal-hal yang semua orang hapalkan, semua hanya tentang teori yang kemudian dilupakan. Ibu lebih suka belajar dari apa yang bisa dialami, dirasakan dan ditemui, lebih praktis dan mudah diingat. Kau juga akan tahu hal-hal apa yang ingin kau pelajari. Tidak perlu persis sama dengan Ibu. Kau akan punya cara sendiri untuk belajar. Kamu bisa belajar dari Ibu, Nenek, Kakek, Paman, orang yang kamu lihat dan temui di jalan menuju sekolah, dan tentu saja dari Ayah. Ayahmu. Kau harus bisa belajar  banyak dari beliau. Oleh karena itu, Ibu berjanji akan berjuang bertemu dengan seseorang yang dengan bangga bisa kau panggil ‘ayah’. Tidak hanya kau, ‘ayahmu’  ini juga harus bisa menjadi guru dan pemimpin bagi Ibu. Kita akan menemukan ‘ayah’ bukan? Tentu saja. Tentu saja, sayang. Jangan khawatir. Ayah dan Ibu akan menjaga dan menyayangimu dengan baik.
  
Kelak Ibu berharap kau bersedia mempercayakan segala cerita tentang hari-harimu kepada Ibu. Mulai dari hari pertama sekolah hingga kau merasakan yang namanya jatuh cinta. Asal kau tahu, Ibu senang sekali bercerita dan mendengar cerita (semoga ini tidak mengganggumu). Selain itu Ibu pintar sekali menebak dan mencari tahu, jadi jangan mencoba untuk berbohong pada Ibu, karena Ibu akan tahu dan semua justru akan menjadi lebih rumit dari yang ingin kau sembunyikan. Jadi jangan takut untuk berkata jujur, lebih takutlah berbohong. 

Jika kau beranjak dewasa dan mulai berbuat nakal, Ayah akan tahu. Ayahmu yang akan mengajarkan lebih banyak hal ketika kau mulai bosan dengan perhatian Ibu. Akan kupastikan kau senang mengobrol dengan Ayahmu sehingga kau tidak akan melewatkan sehari tanpa bercengkrama dengannya. Tentu saja tentang hal-hal yang ada hubungannya dengan laki-laki.

Sejujurnya Nak, Ibu ingin Ayahmu ini tidak bekerja di kantor. Sehingga kita punya waktu untuk jalan-jalan dan piknik ke tempat-tempat baru. Untuk apalagi kalau bukan bersenang-senang dan tentu saja belajar? Jika ingin tahu caranya bersenang-senang dan menikmati hidup, tanyakan pada Ibu, kau akan punya banyak catatan tentang itu. Sedangkan Ayah akan tahu bagaimana caranya menjadi bijaksana, tegas, sabar, dan juga lucu ! Ayah pastilah orang yang lucu ! Ibu yakin. Lalu jangan khawatir, Ibu ini cukup romantis. Ibu tidak malu menyanyi untuk menghiburmu yang sedang sedih atau tidak bisa tidur. Ibu akan tahu kapan waktu yang tepat untuk mendekatimu. 

Anakku sayang, jangan bersedih
esok 'kan ada hari yang lain
Bunga kan mekar kumbang berdatangan, sayang.. bagaimana...?

Sinilah sini duduk dekatku baring di atas pangkuan ibu
Ayah ‘kan datang membawa lukisan
pemandangan alam kota yang tak pernah
engkau lihat sebelumnya, sayang...
kita kan bersama s'lamanya”

(Senja-White Shoes and The Couples Company)

Ngomong-ngomong bagaimana kalau kita istirahat dulu? Sudah mulai tengah hari dan Ibu kedatangan teman dari tempat yang sangat jauh. Kelak kau akan Ibu ajak berkenalan dengannya. Teman Ibu yang satu ini pun sangat lucu!  Sampai jumpa sayang...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar