Sembelit ini semakin terasa ketika senja tiba. Rasanya sakit dan memuakkan.
Kau tahu kenapa?
Karena setiap senja tiba bayangan pohon-pohon yang kupandang dari atas jembatan ber-rel kereta ini seolah-olah membentuk siluet tubuh kurus keringmu yang menggelikan.
Aku masih tetap disini, Bajingan.
Di utopia semu yang pernah kita susun berdua. Aku selalu datang ketika senja tiba untuk mengenang betapa aku telah sangat membencimu. Bagiku, membencimu adalah sebuah anugerah Tuhan yang tak terkira.
Jika aku mampu, aku sudah akan membunuh dan mencincang tubuhmu dalam bagian-bagian kecil, memasukkannya ke dalam kantong agar bisa kubawa kemanapun aku pergi.
Oh, atau jika tidak, aku akan mencincang tubuhmu yang kurus itu untuk kubagi-bagikan kepada anjing-anjing malang di jalan. Akan kubuat tanda dengan darahmu yang merah dan wangi itu di tempat-tempat mana saja kita pernah bertemu dan bercinta. Juga tidak lupa, akan kuletakkan jantungmu yang telah kuhiasi dengan rangkaian bunga krisan cantik tepat disini; di tepi rel kereta tempat kita pernah menghabiskan senja berdua.
Kau ingat?
Disini kau akan selalu bercerita panjang lebar tentang bagaimana kau mencintaiku, merindukanku, atau apalah itu. Lalu aku akan berpura-pura mendengarkan sambil menyetel MP3 player-ku yang melantunkan puisi-puisi Sapardi kesukaanmu keras-keras.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu"
bla bla bla
Aku tidak bisa ingat seluruhnya.
Karena bagiku, itu hanyalah bualan sampah mengganggu yang seharusnya sudah lenyap dari bumi ini.
Kau telah membuatku gila bertahun-tahun yang lalu dengan sesuatu yang kau sebut 'cinta'.
Kini aku hilang akal dan menjadi sulit mendefinisikan perasaanku, itu pasti gara-gara kau.
Tapi satu hal yang aku yakin tahu,
" Aku membencimu. Sungguh. "
Takkan kulepaskan kau. Baik hingga sembelitku ini sembuh atau sampai matipun, kurasa tidak.