Selasa, 22 Januari 2013

Surat Beramplop Coklat Bergambar Jam dan Kalender #1


Aku tidak menyangka akhirnya akan menuliskan surat juga kepadamu. Aku tahu kau menganggap ini bodoh. Aku juga tahu kau tahu bahwa aku memang kerap kali bertingkah bodoh. Jadi bacalah saja.

Hari ini tanggal 22 Januari 2013. Hari dimana kamu berangkat. Ini masih pagi sekitar pukul 8.18 aku dikamarku manuliskan ini untukmu sambil makan nasi goreng. Jujur saja, aku berharap kau datang menemuiku hari ini , yah sekedar untuk mengucapkan selamat tinggal, berbagi kenangan, saling meminta maaf, atau jika boleh meminta lebih lagi, kita mungkin bisa memasak bersama. Aku tahu kau tidak pergi untuk selamanya. Aku masih bersyukur kita berada di zona waktu yang sama, tidak terlalu jauh. Berjanjilah kau akan baik-baik saja disana. Berjanjilah kau akan menjaga diri dan hatimu dengan baik, yaitu selalu ingat akan Alloh dan sebagai bonus juga selalu ingat kepadaku. Dewasalah, belajarlah yang baik.. Jangan sakit. Aduh bahkan dalam tulisan pun aku cerewet. Aku minta maaf.. hiks hiks. Baru saja aku mendapat pesan darimu dan aku hampir menangis dalam konotasi yang baik dan bukan karena kau menyakitiku.  

Aku sadar hubungan kita tidak sempurna dan tidak bisa dikatakan mulus juga. Tapi aku bersyukur aku digariskan mengalami kesadaran maupun ketidaksadaran bersamamu, bukan dengan oranglain. Aku juga bersyukur diberi kesempatan untuk melihatmu ketika kuat maupun saat terlemahmu. Aku bersyukur juga telah melihatmu ketika kau keras kepala maupun ketika sedih atau manja. Aku sering marah dan sebal padamu dan aku yakin begitu pula kau. Seolah-olah kita saling berusaha untuk saling menarik bagian dari diri kita. Bukannya melar, tapi kita lebih sering robek. Haaah,, kalau mengingat hari itu rasanya seperti lelah sekali. Kadang aku pengin kembali ketika sekolah dasar dulu, ketika cinta begitu sederhana dan menerima. Ketika kita sudah besar kita tidak lebih dewasa tapi justru lebih egois dalam hal yang satu ini. Meskipun begitu, aku belajar banyak darimu. Entah apa jadinya aku kalau tidak pernah bertemu kamu.

Waktu berjalan begitu lambat dan menyebalkan, sekarang baru pukul 12.26 dan seakan-akan telah menunggu selama setahun aku yang lagi-lagi tidak sabar akhirnya menelponmu. Mendengar suaramu yang dalam dan tenang itu membuatku nyaman. Rasanya kau pasti tahu juga apa yang akan kutanyakan padamu karena kamu dua kali bicara dengan penuh penekanan “ Nanti aku ke rumahmu sayang “ . Mendengarnya saja sudah merasa lebih baik meskipun masih ada beberapa spekulasi sialan yang berkembang di kepalaku. Bagaimana nanti kalau hujan? Bagaimana kalau kau lupa waktu? Bagaimana kalau nanti kita hanya bisa bertemu sebentar? Dan ‘bagaimana’ ‘bagaimana’ yang lain. Jadi kuputuskan daripada aku berpikir ngawur lebih baik aku membunuh waktu dengan menulis ini. Sebenarnya aku tak yakin kamu akan benar-benar punya waktu untuk membacanya nanti, tapi aku tak tahu harus melakukan apa yang bisa lebih baik dari ini.

Lagi-lagi kuputar lagu yang sama Christina Perri-Thousand Years mengingatkanku tentang film vampir modern itu dan tentu saja tentang kamu. Mengingat lagi mungkin sekitar sebulan lalu di rumah sakit di jam yang sama kau sedang membujukku untuk makan siang agar aku bisa minum obat, dan seperti distel otomatis aku biasanya berkata “nanti aja”. Bukannya mengingkari nikmat-Nya, rasanya aku pengin kembali ke tanggal itu, bukan untuk mengulang sakitnya, tapi kebersamaannya saja. Oh tidak, akhirnya aku menangis juga. Aku harus segera menutup pintu kamarku agar tidak ada yang melihat. Bukan karena aku malu, tapi aku takut Bapak akan panik melihatku menangis, disangkanya aku sakit atau apa.

Jika kau begitu berani, ajari aku bagaimana caranya menjadi berani.
Jika kau begitu kuat, ajari aku bagaimana caranya menjadi kuat.

Perasaan melankolis yang melekat di diriku ini mungkin yang seharusnya patut disalahkan. Aku minta maaf, aku ingin mengantarmu pergi dengan ceria tapi toh aku akhirnya menangis juga. Lagipula perasaan melankolis macam apa yang membuatku bisa menuliskan dua halaman ocehan tidak jelas hanya karena kau akan pergi sebentar saja. Sepertinya aku harus bersyukur aku tidak dilahirkan ketika perang. Bagaimana jadinya kalau aku dilahirkan sebagai seorang ibu-ibu penduduk pribumi yang harus melepas suaminya pergi berperang dengan menggunakan bambu runcing atau mungkin yang sedikit lebih modern adalah menjadi ibu-ibu rumah tangga tahun 60 an yang harus menerima kenyataan bahwa suaminya diculik PKI. Ya Alloh... syukurlah kau tidak akan pergi untuk menarik pelatuk atau mengibas-ibaskan bambu runcing. Jangan marah padaku ya karena aku mengoceh disini.

Kadang-kadang aku juga berfikir pekerjaan apa ya yang bisa aku lakukan dengan sebuah anugerah berupa perasaan melankolis yang kata orang-orang ‘lebay’ ini? Menjual cerita? Aku tidak cukup percaya diri melakukannya, meskipun aku cukup senang menghayal tapi aku tidak lancar mengarang. Menjual lagu? Aku tidak pandai memainkan alat musik. Jujur saja, aku tidak ingin berakhir menjadi ibu-ibu melankolis yang selalu cerewet bercerita tentang anak dan suaminya suatu saat nanti. Membayangkannya saja sudah cukup mengerikan.

Rasanya ingin cepat-cepat melesat ke bulan Maret atau April. Jujur saja aku cukup sedih karena kau memutuskan untuk berangkat hari ini, ini kan masih tanggal 22 Januari, ya ampun !! Rasanya ingin sekali aku meneriakkan kalimat itu, tapi di sisi lain aku senang kau segera berangkat karena aku akan segera mengakhiri perasaan menyiksa untuk melepasmu pergi ini. Setelah kau berangkat yang bisa kulakukan adalah menunggumu pulang. “Pulang” tiba-tiba kata-kata itu menjadi sangat ajaib bagiku. “Minggu depan aku pulang sayang” waaaawwww.... seperti apa rasanya ketika aku mendapat kata-kata itu darimu nanti yaa??   Bagai anak kecil kegirangan aku pasti akan mulai berdiri di depan kaca dan sok-sok an membetulkan rambut atau bajuku, padahal kan kau masih akan pulang seminggu lagi. Bodoh. Gadis bodoh ini kapan akan menjadi pintar? Ngomong-ngomong kau suka yang mana? Bodoh atau pintar?

Jika kau begitu pintar, ajari aku bagaimana caranya menjadi pintar

Aku jadi teringat adegan film vampir modern itu dimana si tokoh utama wanita menunggu selama hampir setahun ketika ditinggal si tokoh utama pria ke luar negri. Digambarkan disana dia duduk dikursinya dan pemandangan di jendela kamarnya berubah dari musim panas, musim gugur, lalu musim dingin. Ketika melihat adegan itu aku berpikir bahwa adegan itu bodoh sekali. Apa-apaan yang dilakukannya? Dia bahkan tidak melakukan apapun dan cuma duduk di kursinya. Dramatis. Super. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan seperti itu. Aku mungkin bodoh dalam hal ini, tapi setidaknya aku akan pergi mandi, nonton tivi, atau makan daripada duduk melamun di kursi.

Apa kau akan kangen padaku? Pertanyaan yang meskipun telah kau jawab tapi rasanya ingin menanyakannya terus dan terus. Ah ! Apasih yang kamu lakukan diluar sana? Cepatlah datang kemari... aku sudah hampir menuju halaman ke tiga nih ! Ah sudahlah.. apa-apaan juga yang aku lakukan? Baiklah, lebih baik aku memasak saja..

Pukul 16.15 setelah kira-kira 1 jam kamu di rumah dan menghabiskan dua piring masakanku akhirnya kamu pamit untuk pergi. “Aku berangkat ya” masih terngiang-ngiang ekspresi dan nada suaramu ketika mengatakan itu. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Di satu jam yang menyiksa itu seolah olah kita berada di hampa udara, kita sama-sama tidak banyak bicara. Hanya menghela napas dan sesekali tertawa. Barangkali kitapun tidak tahu untuk apa kita tertawa seakan-akan hanya untuk menertawakan diri betapa konyol dan sentimentilnya kita. Sambil memelukku kamu berkata “Nanti kalau aku pulang aku jadi pintar. Kan cuma sebentar, dua kali kamu datang bulan. Bayangin kalo aku pergi ke Jerman. Ya?” bagai anak kecil aku menangis sambil mengangguk. Ya Alloh.. kami berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih.. meskipun kamu baru akan meninggalkan Jogja pukul 19.30 nanti, tapi ini kesempatan terakhirku melihatmu di bulan ini gara-gara kondisiku yang belum bisa pergi kemana-mana sendirian. InsyaAlloh ketika kamu pulang nanti aku adalah orang yang akan menjemputmu. Bersemangatlah !