Aku tidak menyangka akhirnya akan menuliskan
surat juga kepadamu. Aku tahu kau menganggap ini bodoh. Aku juga tahu kau tahu
bahwa aku memang kerap kali bertingkah bodoh. Jadi bacalah saja.
Hari ini tanggal 22 Januari 2013. Hari dimana
kamu berangkat. Ini masih pagi sekitar pukul 8.18 aku dikamarku manuliskan ini
untukmu sambil makan nasi goreng. Jujur saja, aku berharap kau datang menemuiku
hari ini , yah sekedar untuk mengucapkan selamat tinggal, berbagi kenangan,
saling meminta maaf, atau jika boleh meminta lebih lagi, kita mungkin bisa
memasak bersama. Aku tahu kau tidak pergi untuk selamanya. Aku masih bersyukur
kita berada di zona waktu yang sama, tidak terlalu jauh. Berjanjilah kau akan
baik-baik saja disana. Berjanjilah kau akan menjaga diri dan hatimu dengan
baik, yaitu selalu ingat akan Alloh dan sebagai bonus juga selalu ingat
kepadaku. Dewasalah, belajarlah yang baik.. Jangan sakit. Aduh bahkan dalam
tulisan pun aku cerewet. Aku minta maaf.. hiks hiks. Baru saja aku mendapat
pesan darimu dan aku hampir menangis dalam konotasi yang baik dan bukan karena
kau menyakitiku.
Aku sadar hubungan kita tidak sempurna dan
tidak bisa dikatakan mulus juga. Tapi aku bersyukur aku digariskan mengalami
kesadaran maupun ketidaksadaran bersamamu, bukan dengan oranglain. Aku juga
bersyukur diberi kesempatan untuk melihatmu ketika kuat maupun saat terlemahmu.
Aku bersyukur juga telah melihatmu ketika kau keras kepala maupun ketika sedih
atau manja. Aku sering marah dan sebal padamu dan aku yakin begitu pula kau.
Seolah-olah kita saling berusaha untuk saling menarik bagian dari diri kita.
Bukannya melar, tapi kita lebih sering robek. Haaah,, kalau mengingat hari itu
rasanya seperti lelah sekali. Kadang aku pengin kembali ketika sekolah dasar
dulu, ketika cinta begitu sederhana dan menerima. Ketika kita sudah besar kita
tidak lebih dewasa tapi justru lebih egois dalam hal yang satu ini. Meskipun
begitu, aku belajar banyak darimu. Entah apa jadinya aku kalau tidak pernah
bertemu kamu.
Waktu berjalan begitu lambat dan menyebalkan,
sekarang baru pukul 12.26 dan seakan-akan telah menunggu selama setahun aku
yang lagi-lagi tidak sabar akhirnya menelponmu. Mendengar suaramu yang dalam
dan tenang itu membuatku nyaman. Rasanya kau pasti tahu juga apa yang akan
kutanyakan padamu karena kamu dua kali bicara dengan penuh penekanan “ Nanti
aku ke rumahmu sayang “ . Mendengarnya saja sudah merasa lebih baik meskipun
masih ada beberapa spekulasi sialan yang berkembang di kepalaku. Bagaimana
nanti kalau hujan? Bagaimana kalau kau lupa waktu? Bagaimana kalau nanti kita
hanya bisa bertemu sebentar? Dan ‘bagaimana’ ‘bagaimana’ yang lain. Jadi
kuputuskan daripada aku berpikir ngawur lebih baik aku membunuh waktu dengan
menulis ini. Sebenarnya aku tak yakin kamu akan benar-benar punya waktu untuk
membacanya nanti, tapi aku tak tahu harus melakukan apa yang bisa lebih baik
dari ini.
Lagi-lagi kuputar lagu yang sama Christina
Perri-Thousand Years mengingatkanku tentang film vampir modern itu dan tentu
saja tentang kamu. Mengingat lagi mungkin sekitar sebulan lalu di rumah sakit
di jam yang sama kau sedang membujukku untuk makan siang agar aku bisa minum
obat, dan seperti distel otomatis aku biasanya berkata “nanti aja”. Bukannya
mengingkari nikmat-Nya, rasanya aku pengin kembali ke tanggal itu, bukan untuk
mengulang sakitnya, tapi kebersamaannya saja. Oh tidak, akhirnya aku menangis
juga. Aku harus segera menutup pintu kamarku agar tidak ada yang melihat. Bukan
karena aku malu, tapi aku takut Bapak akan panik melihatku menangis,
disangkanya aku sakit atau apa.
Jika kau begitu berani, ajari aku bagaimana caranya
menjadi berani.
Jika kau begitu kuat, ajari aku bagaimana caranya menjadi
kuat.
Perasaan melankolis yang melekat di diriku ini
mungkin yang seharusnya patut disalahkan. Aku minta maaf, aku ingin mengantarmu
pergi dengan ceria tapi toh aku akhirnya menangis juga. Lagipula perasaan
melankolis macam apa yang membuatku bisa menuliskan dua halaman ocehan tidak
jelas hanya karena kau akan pergi sebentar saja. Sepertinya aku harus bersyukur
aku tidak dilahirkan ketika perang. Bagaimana jadinya kalau aku dilahirkan
sebagai seorang ibu-ibu penduduk pribumi yang harus melepas suaminya pergi
berperang dengan menggunakan bambu runcing atau mungkin yang sedikit lebih
modern adalah menjadi ibu-ibu rumah tangga tahun 60 an yang harus menerima
kenyataan bahwa suaminya diculik PKI. Ya Alloh... syukurlah kau tidak akan
pergi untuk menarik pelatuk atau mengibas-ibaskan bambu runcing. Jangan marah
padaku ya karena aku mengoceh disini.
Kadang-kadang aku juga berfikir pekerjaan apa
ya yang bisa aku lakukan dengan sebuah anugerah berupa perasaan melankolis yang
kata orang-orang ‘lebay’ ini? Menjual cerita? Aku tidak cukup percaya diri
melakukannya, meskipun aku cukup senang menghayal tapi aku tidak lancar
mengarang. Menjual lagu? Aku tidak pandai memainkan alat musik. Jujur saja, aku
tidak ingin berakhir menjadi ibu-ibu melankolis yang selalu cerewet bercerita
tentang anak dan suaminya suatu saat nanti. Membayangkannya saja sudah cukup
mengerikan.
Rasanya ingin cepat-cepat melesat ke bulan
Maret atau April. Jujur saja aku cukup sedih karena kau memutuskan untuk
berangkat hari ini, ini kan masih
tanggal 22 Januari, ya ampun !! Rasanya ingin sekali aku meneriakkan
kalimat itu, tapi di sisi lain aku senang kau segera berangkat karena aku akan
segera mengakhiri perasaan menyiksa untuk melepasmu pergi ini. Setelah kau
berangkat yang bisa kulakukan adalah menunggumu pulang. “Pulang” tiba-tiba kata-kata itu menjadi sangat ajaib bagiku.
“Minggu depan aku pulang sayang”
waaaawwww.... seperti apa rasanya ketika aku mendapat kata-kata itu darimu
nanti yaa?? Bagai anak kecil kegirangan
aku pasti akan mulai berdiri di depan kaca dan sok-sok an membetulkan rambut
atau bajuku, padahal kan kau masih akan pulang seminggu lagi. Bodoh. Gadis
bodoh ini kapan akan menjadi pintar? Ngomong-ngomong kau suka yang mana? Bodoh
atau pintar?
Jika kau begitu pintar, ajari aku bagaimana caranya
menjadi pintar
Aku jadi teringat adegan film vampir modern
itu dimana si tokoh utama wanita menunggu selama hampir setahun ketika
ditinggal si tokoh utama pria ke luar negri. Digambarkan disana dia duduk
dikursinya dan pemandangan di jendela kamarnya berubah dari musim panas, musim
gugur, lalu musim dingin. Ketika melihat adegan itu aku berpikir bahwa adegan itu
bodoh sekali. Apa-apaan yang dilakukannya? Dia bahkan tidak melakukan apapun
dan cuma duduk di kursinya. Dramatis. Super. Aku berjanji pada diriku sendiri
tidak akan seperti itu. Aku mungkin bodoh dalam hal ini, tapi setidaknya aku
akan pergi mandi, nonton tivi, atau makan daripada duduk melamun di kursi.
Apa kau akan kangen padaku? Pertanyaan yang
meskipun telah kau jawab tapi rasanya ingin menanyakannya terus dan terus. Ah !
Apasih yang kamu lakukan diluar sana? Cepatlah datang kemari... aku sudah hampir
menuju halaman ke tiga nih ! Ah sudahlah.. apa-apaan juga yang aku lakukan?
Baiklah, lebih baik aku memasak saja..
Pukul 16.15 setelah kira-kira 1 jam kamu di
rumah dan menghabiskan dua piring masakanku akhirnya kamu pamit untuk pergi. “Aku berangkat ya” masih
terngiang-ngiang ekspresi dan nada suaramu ketika mengatakan itu. Jangan tanya
bagaimana perasaanku. Di satu jam yang menyiksa itu seolah olah kita berada di hampa udara, kita sama-sama tidak banyak bicara. Hanya menghela napas dan sesekali tertawa. Barangkali kitapun tidak tahu untuk apa kita tertawa seakan-akan hanya untuk menertawakan diri betapa konyol dan sentimentilnya kita. Sambil memelukku kamu berkata “Nanti kalau aku pulang aku
jadi pintar. Kan cuma sebentar, dua kali kamu datang bulan. Bayangin kalo aku
pergi ke Jerman. Ya?” bagai anak kecil aku menangis sambil mengangguk. Ya
Alloh.. kami berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih.. meskipun kamu baru
akan meninggalkan Jogja pukul 19.30 nanti, tapi ini kesempatan terakhirku
melihatmu di bulan ini gara-gara kondisiku yang belum bisa pergi kemana-mana
sendirian. InsyaAlloh ketika kamu pulang nanti aku adalah orang yang akan
menjemputmu. Bersemangatlah !