Selamat malam penghuni kotak mimpi segitigaku. Gadis yang
menulis ini kini telah berusia 23 tahun sejak sebulan yang lalu. Malam ini
tepatnya tanggal 15 Mei 2013 kuputuskan untuk membagi seluruh perasaan di
ruangan pribadiku ini. Kuharap bisa memberikan inspirasi atau mungkin hiburan
bagi para pendatang yang dengan sengaja atau tidak sengaja membaca tulisan ini.
Untuk diketahui tulisan ini sepenuhnya jujur dari diriku. Tiada maksud
menyakiti siapapun, aku hanya ingin berdamai dengan keadaan dengan caraku;
dimana salah satunya adalah dengan menulis. Mari kita mulai.
Adalah seorang pemuda kurus tidak begitu tinggi, berhidung
mancung, berkulit hitam manis, bermata besar, dan bila tersenyum muncul kerut
kerut di sekitar matanya. Pemuda itu sangat kukagumi semangat dan selera
humornya. Terkadang aku sengaja melucu hanya demi bisa melihat kerut-kerut di
sekitar matanya yang unik itu. Dia adalah seorang pemimpi besar. Dia ingin
sukses dan (mungkin) memperoleh banyak uang dari bidang yang sangat dia cintai,
yaitu advertising (sampai kini bila melihat kata itu masih bergetar rasanya,
hihihihi). Terakhir kali kutemani dia bermimpi, dia berkata padaku bahwa dia
ingin menjadi seorang Strategic Planner (yang waktu itu aku bingung sebenarnya
itu profesi apa. tapi lambat laun akhirnya aku tahu!). Kini, kudengar bahwa dia
ingin memiliki usaha sendiri (sepertinya sebuah agency periklanan juga) yang
mana itu adalah bagus karena akhirnya dia kini bisa menjadi bos. Hehe.
Pemuda itu pernah saling menemani bersamaku selama kurang
lebih dua tahun. Aku sering menangis dibuatnya, tapi sering tertawa juga. Masih
teringat di benakku ketika dia memboncengku dengan sepedanya menuju pantai. Ah
pantai, tadinya aku adalah orang yang tidak terlalu suka pantai karena bagiku
pantai itu panas dan kotor. Aku juga takut pada laut dan ikan. Namun dengannya,
perlahan-lahan aku mulai menyukainya. Dulu sering kami ke pantai untuk melepas
penat dan kesal, sekedar berteriak atau naik kuda !! Naik kuda !! Hahahahaha.
Aku juga masih ingat di hari kami naik kuda di pantai, pemuda itu dan aku
sama-sama mengenakan kaus berwarna putih dan dia terlihat sangat tampan di hari
itu (aku punya video dan fotonya, makanya aku ingat). Pantai selalu
mengingatkanku akan pemuda itu dan semangatnya yang masih mengalir di
ingatanku. Terkadang terbersit di pikiranku “Kapan lagi ya aku bisa melihat
kerut-kerut di sekitar matanya lagi?”
Aku sangat menyayangi pemuda itu. Aku hampir selalu bisa
membaca pikirannya, jadi prosentase keberhasilan dia memberi surprise padaku
bisa jadi sangat kecil. Hahahaha. Tapi aku selalu mengagumi usahanya yang
polos, manja, dan lucu itu. Dia bilang dia tidak pernah bersikap begitu bila di
hadapan oranglain. Katanya waktu itu, dia bersikap begitu hanya padaku. Hehehe.
Lucu dan bikin gemes sebenarnya pemuda itu. Tapi jika sedang bersuasana hati
buruk, marah, ingin menang sendiri, dia sungguh sungguh menjengkelkan !
Hahahaha. Kangen juga ternyata aku padanya. Ingin rasanya aku meminta maaf pada
pemuda itu karena aku lebih sering marah ketika menanggapi marahnya. Aku kini
sadar bahwa aku harus belajar bersabar dan percaya bahwa Tuhan benar-benar
telah menetapkan sebuah rencana bahkan sebelum aku dan pemuda itu dilahirkan.
Terkadang aku sering memaksakan takdir, merasa aku lebih lihai dan pandai
daripada Tuhan, sehingga aku menentang-Nya dengan cara-caraku sendiri yang
malah akhirnya menyakiti pemuda yang paling aku sayangi itu. Apa kamu terluka
cukup dalam wahai pemuda?
Kini (ah, aku harus membahas ini juga ya?) Kini pemuda itu
masih tetap ada di dalam hati dan pikiranku, namanya mengalun ketika aku
curhat; entah kepada Tuhan atau kepada teman. Ya, aku yakin pemuda itu masih
ada di dalam diriku, hanya saja aku kini tak bisa menyentuh dan melihat
kerut-kerut wajahnya ketika dia tertawa. Bahkan aku kini tak tahu kapan dia
tertawa. Biar Tuhan yang menyampaikan salamku padanya, menyampaikan betapa aku
merindukan kerut-kerut di wajahnya itu. Ya Alloh, tertuliskah namanya di sisi
namaku di dalam Lauh Mahfudz mu? Jika memang iya, jaga hatiku dan hatinya
sampai akhirnya Kau ijinkan kami bertemu lagi dengan keadaan yang paling Engkau
ridloi. Namun jika bukan, tidak apa-apa Ya Alloh.. tetap jaga hatiku dan
hatinya agar kami berhak mendapatkan pasangan-pasangan yang juga terjaga
hatinya karena-Mu. Karena aku sangat menghargai kehadirannya di hari-hariku.
Terimakasih Ya Alloh.... Kau ajarkan aku sabar dengan cara yang paling indah
dan paling mudah. Kau ajarkan aku menyayangi dengan cara yang lebih Engkau
sukai. Kau anugerahkan rasa cinta yang besar padaku sehingga kini aku punya
waktu dan mulai belajar berfikir tentang oranglain. Kau ijinkan aku untuk
mendekat pada-Mu sekali lagi. Ya Alloh, sungguh tak pernah Kau mengambil
sesuatu dari hamba-Mu tanpa adanya kebaikan didalamnya. Aku yang masih buta dan
tuli ini masih sulit untuk melihat dan mendengar tanda-tanda kasih-Mu.
Kenangan-kenanganku dengannya serasa membakar kepala dan perasaanku sehingga
bulir-bulir air mata itu mengalir dan sering aku tak sanggup menahannya. Ya
Alloh, sungguh perasaan senang dan sedihku ini hanya milik-Mu. Engkau kuasa
mengambil suatu perasaan lalu menggantinya dengan rasa yang lain. Aku tidak
akan meminta Engkau untuk menghapus kenangan-kenangan itu dari pikiranku, hanya
saja ijinkan aku merasa ikhlas dan bahagia setiap kali aku mengingatnya.
Ijinkan pemuda itu meninggalkan jejak indah di dalam hidupku. Ijinkan aku
menguasai apa yang disebut ‘ikhlas’ itu. Lalu, jika masih boleh nawar sedikit,
semoga suatu saat ketika aku sudah oke, aku bisa melihat kerut-kerut di wajah
tawa pemuda itu lagi. Aamiin.