Jumat, 27 Desember 2013

Sisa-sisa Perasaan

Sembelit ini semakin terasa ketika sore tiba. Rasanya sakit dan memuakkan

Kau tahu kenapa?

Karena setiap sore tiba, bayangan pohon-pohon yang kupandang dari atas jembatan rel kereta itu seolah-olah membentuk siluet tubuh kurus keringmu yang menggelikan.

Aku masih tetap disini.
Di utopia semu yang pernah kita susun berdua.Aku selalu datang setiap sore tiba untuk mengenang betapa aku telah sangat membencimu.

Jika aku mampu, pasti sudah kubunuh dan kucincang tubuhmu. Setelah itu akan kubagikan daging merah segarmu pada anjing-anjing malang di jalanan. Akan kubuat tanda dengan darahmu di tempat-tempat mana saja kita pernah bertemu dan bercinta. Juga tidak lupa, akan kuletakkan jantungmu yang telah kuhiasi dengan bunga krisan cantik di rel kereta tempat kita menghabiskan waktu berdua. Biar dilindas habis.

Kau ingat?
Disini kau akan bercerita panjang lebar tentang bagaimana kau mencintai dan merindukanku, atau apalah itu. Lalu aku akan berpura-pura mendengarkan ocehanmu sambil mengeraskan volume handphone yang sedang melantunkan puisi-puisi Sapardi yang kau suka.


"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"



Kau telah membuatku gila dengan sesuatu yang kau bilang cinta. Aku jadi tidak bisa lagi mendefinisikan perasaanku. Tapi satu hal yang aku yakin tahu.

Aku membencimu. Sungguh.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar