Matahari mulai beranjak kembali ke pangkuan ibundanya.
Pada waktu-waktu seperti itu aku akan memandang wajahmu yang lusuh penuh peluh sepanjang hari,
sama sekali tidak menarik dan patut dibagi.
Tapi entah mengapa selalu tampak sempurna di lingkaran mataku ini.
Aku mengasihimu demi setiap zat asin mikroskopis yang terkandung di setiap tetes air mata mereka yang murni
Tak peduli seberapa besar atau dalamnya itu, kita akan tetap mengernyitkan dahi saat matahari beranjak terik dan mengusap peluh dengan cara kita masing-masing
Kita berjalan dalam dunia yang berbeda.
Jikalau matahari merekah di sisi timur hatimu, maka akan terjadi sebaliknya padaku,
selalu aku akan merasa risau dengan semua itu,
merajuk,
berteriak,
dan menangis,
tanpa kusadari, ujung kaus putihmu adalah yang pertama kali akan kugenggam seolah ingin berkata,
" Aku resah.. aku takut.. mohon tenangkan aku "
dan dengan seulas senyum kau akan membuatku merasa penuh.
" Mari kita tidurkan anak-anak kita dan biarkan resahmu menguap dibawa mimpi kanak-kanak mereka " katamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar