Rabu, 16 Februari 2011

Kebebasan itu Candu dan Membatik itu Seru

Baru saja saya pulang dari bekerja, dan hal pertama yang saya lakukan adalah menyalakan PC. Saya berharap koneksi internet berjalan lancar karena banyak sekali cerita yang ingin saya bagi pada semua orang. Tapi, seperti bisa membaca pikiran, si koneksi internet ternyata macet entah karena Ibu lupa bayar tagihan bulanan atau karena hujan badai tadi siang, yang jelas saya kesal karena tidak bisa membuka blog. Ya begini ini kalau ketergantungan, entah sama orang tua, sama pacar, sama teman, atau sama koneksi internet. 


Ketergantungan itu memang “ Nyebai ! “
Tapi ya mau gimana lagi? Lha wong memang nggak bisa buka blog sekarang, ya sudah, akhirnya saya buka Microsoft Word untuk memuaskan hasrat menulis saya, “ Selak ilang ceritane ! “ , batin saya. Ditemani lagu-lagu asik dari Mas Cholil, Mbak Irma Hidayana, dan Dialog Dini Hari yang nyeni banget akhirnya saya 
tuangkan semua cerita saya disini.


Oke saya mulai.


Hari ini benar-benar hari yang berkesan buat saya. Bukan. Saya bukan lagi gajian. Saya juga nggak lagi jatuh cinta banget-banget. Tapi saya hari ini bisa benar-benar merasakan nikmatnya “sarapan”. Loh kok?? 
Nah.. gini.. gini…


Dimulai dengan bangun pagi (bangun jam setegah 8 itu sudah pagi menurut saya), saya mruput  ketemu sama pacar saya yang baru saya pacarin 4 bulan yang lalu itu. Cuma sebentar, tapi nggak papa. Setelah saya bilang “ Rambutmu elek banget ! “ dan maksa dia potong rambut, saya segera pergi menuju TBY.  Dengan kostum yang menurut saya “nyeni” banget (celana sobek-sobek item, kaos item, hem item, sepatu kanvas, tas cilik )  saya dengan ogah-ogahan parkir motor di halaman TBY. Ngapain saya pagi-pagi ke TBY? Saya kan ikutan Workshop Batik disana yang berlangsung dari tangal 15-17 Februari. Yah.. jadi ini bisa dikatakan hari ke-2 workshop, tapi justru di hari ke-2 ini saya merasa lebih “nge-soul” ikutan mbatik.

Setelah memperbaiki karya batik saya yang sudah saya buat kemarin, saya memilih untuk sarapan dulu sebentar. Eh, kebetulan, sama panitianya disiapin kopi dan jajanan pasar, alhasil dengan modal Cuek Is The Best, saya ngambil kopi dan pisang molen kesukaan saya. Waktu saya duduk, Pak Samudra, salah satu mentor workshop datang menghampiri saya dan ngambil kopi juga. Yah.. bisa ditebak, sambil ngrokok, minum kopi, dan nyemil pisang molen saya ngobrol-ngobrol sama Pak Samudra tentang batik, teknik pewarnaan tekstil, lukisan, dan yang pasti seni secara keseluruhan. “ Nah… ini baru yang namanya sarapan ! “, pikir saya. Bagaimana tidak, di depan saya ada sekitar 5 orang anak yang sedang melukis, ada yang bingung nyampur warna, menjab-menjeb karena warna yang muncul nggak sesuai sama yang diinginkan, atau nggak peduli asal sapu kuas ( kita nggarap batik kontemporer yang diajarin Bu Briggite si Bule Jerman, bukan pakek canting ). Suasananya itu lo yang tidak bisa diganti. Damai. Tenang. Indah. Bikin pikiran cerah dan mampu berfilosofi. Halah !


“ Dadi ki yo, sing penting bebas wae, raono warna sing salah, dadi don’t be afraid. “, kata Pak Samudra.
Ah, saya jadi ingat, bertahun-tahun yang lalu Bapak juga sering mengatakan itu. Maklum, saya dulu seneng ikutan lomba nggambar, meskipun jarang menang, tapi rapopo, sing penting “bebas”. Haha. Mungkin kalau saya cerita sama Bapak tentang kehidupan remaja yang saya alami ini apa Bapak masih bisa ngendika gitu ya? “ Warna ki raono sing salah, dadi bebas wae. Pokoke bebas. “, dari ucapan Pak Samudra yang lurus menuju ucapan Bapak bertahun-tahun yang lalu, saya jadi tersadar rupanya kemarin-kemarin saya terlalu asik nyampur-nyampur warna hitam, putih dan biru dongker alhasil jadinya abu-abu rodo biru rodo ungu tuo, dan warna muram itu saya sapukan di ruang kehidupan ABG saya, jadi ya hasilnya gini, abu-abu wagu. Maaf ya Pak, Bu, saya lagi eksperimen, nanti saya tutup malam lagi terus saya sapukan kuning terang, hijau daun ( malah jeneng band ), atau merah; biar yang gelap-gelap kemarin itu bisa jadi pola yang bagus.


Kembali ke workshop, saya ngobrol sana-sini, saya banyak tanya sana-sini juga sama Pak Samudra dan pada akhirnya kita sampai pada sesi “ ngrasani “ mentor yang lain, terutama Bu Brigitte yang ngajar batik kontemporer. Beliau adalah seniman batik asal Jerman. Beegh.. karya nya sudah keliling dunia, dan saya merasa beruntung bisa dapat kesempatan belajar dengan beliau. Memang sih, karena sepertinya si Bu Brigitte itu perfeksionis, jadinya anak-anak kurang bebas dalam mengekspresikan diri di karya batik mereka. Mulai dari bentuk coretan hingga pemilihan warna, Bu Brigitte semua yang merekomendasikan, jadi secara naluriah anak-anak kurang merasa “ bebas “ . Tapi nggak papa sih, saya pikir Bu Brigitte juga sebenarnya ingin ngasih konsep dasar dulu sama kita biar kita tahu, saya cukup senang dengan beliau yang murah senyum, tapi hal itu juga yang kadang-kadang bikin nggak cocok dengan mentor yang lain.


Dari cuap-cuap sarapan bersama Pak Samudra itu saya jadi merasa “ ini nih, dunia saya ! “, bukan tentang batik nya, tapi tentang konsep hidup bebas nya Pak Samudra. Bebas yang tanpa manajemen. Bebas yang asik. Bebas yang sopan. Bebas yang bertanggung jawab. Ingin rasanya saya bisa mewujudkan “ bebas “ dalam hidup saya di masa mendatang.


Sendiri,


menyeduh kopi,


merokok,


 melukis,


menikmati musik,



Tapi, pada kenyataannya, saya sendiri sudah membuat batasan-batasan dalam “ bebas “ versi saya. Padahal seharusnya bebas itu tanpa batas. Apa saya sudah gagal hidup bebas? Atau saya tidak mampu hidup bebas? Entahlah.. Saya bebas to mbikin pertanyaan-pertanyaan njlimet buat saya pecahkan sendiri? 




Ya itu dia,

seperti ngendikanipun Bapak juga,
“Pokoke bebas “ !!




NB : O iya, gambar nya nyusul yaa.. :D


  16 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar